Rabu, 21 Agustus 2013

(Terlihat) Siap walau Tidak Siap

We've got to hold on ready or not.
You live for the fight when it's all that you've got. - Jon Bon Jovi

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya tentang kata-kata yang jangan digunakan walaupun kita memang tidak siap. Kalau tulisan sebelumnya saya ingin memberikan pemikiran yang baru terhadap anda, kali ini saya akan menulis bagaimana cara melakukannya.

Banyak orang berpikir bahwa bisa siap walaupun sebenarnya tidak siap adalah sebuah
kepalsuan yang diberikan saat kita berbicara, karena dianggap membohongi audiens. Saya dapat katakan dalan tulisan ini bahwa anggapan tersebut tidak benar, karena setiap orang memiki kemampuan yang berbeda dengan yang lain. Bisa saja secara materi ia sudah sangat siap, namun saat menyampaikannya tidak lebih baik dari seseorang yang sebenarnya belum siap.

Dalam sebuah seminar tentang CSR ada 2 narasumber yang memaparkan materinya masing-masing. Dalam sesi sebelum seminar, karena saya sebagai MC sempat berbincang dengan mereka secara terpisah. Pembicara yang satu terlihat sekali sudah menyiapkan materinya dengan slides presentasi dan handout yang ia siapkan. Sementara pembicara yang lain tidak memiliki slides apalagi handout karena dia ditunjuk beberapa jam sebelum acara menggantikan pimpinannya yang berhalangan hadir.

Apa yang terjadi?
Saat pembicara A memaparkan materinya ia sangat bergantung pada slides yang memang sudah ia persiapkan beserta handout yang ia bagikan kepada audiens  sehingga suasana menjadi membosankan karena yang disampaikan sama persis dengan yang ditampilkan dan dibagikan.

Saat pembicara B memaparkan materinya, ia hanya bergantung pada pikiran dan tulisannya yang ia buat di kertas kecil namun mampu mengemasnya menjadi satu pembahasan yang menarik untuk didengarkan walau yang ia sampaikan tidak sedetail pembicara A1. Perlu diingat bahwa ia tidak sempat membuat persiapan dan terpaksa untuk hadir sebagai pengganti pimpinannya.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa walaupun kita belum siap namun bukan berarti kita harus terlihat tidak siap, semua tergantung anda sebagai pembicara apakah mau terlihat tidak siap atau sebaliknya.Berikut ini adalah tips yang khusus untuk anda yang ingin terlihat selalu siap saat melakukan public speaking:

Tampilkan bahasa tubuh percaya diri
Kesiapan seseorang saat public speaking bukan hanya terlihat dari kemampuan menguasai materi, namun juga dari kemampuan menguasai diri. Tentu saja gabungan dari keduanya adalah yang terbaik bagi pembicara, namun dalam tulisan ini keadaannya adalah saat tidak mempersiapkan materi yang akan disampaikan, sehingga menunjukan bahwa anda menguasai diri dengan tampil percaya diri adalah hal yang mutlak harus anda tampilkan. Percaya diri saat tidak siap adalah ketika pandangan mata kita tertuju kepada seluruh audiens, wajah kita tersenyum, postur kita tegak, gestur kita dinamis, dengan suara yang terdengar jelas. Saat saya menulis ini,


saya masih berada di amsterdam menghadiri undangan dari asosiasi pesepakbola dunia. Di hari ke-3 kejutan terjadi karena hadir di hadapan saya Xavi Hernandes, Cesc
Fabregas, Gerard Pique dari Barcelona dan kami diminta untuk mengajukan pertanyaan kepada mereka.

Pertama yang ingin saya sampaikan bahwa saya pengagum berat Xavi Hernandez dan juga Barcelona (setelah Liverpool tentunya, haha) sehingga bisa anda bayangkan betapa gugupnya saya melihat mereka di depan saya. Kedua adalah saya harus bertanya kepada mereka karena pentingnya pertanyaan saya untuk didengar pesepakbola Indonesia, dan tentunya dengan bahasa Inggris. Saya praktekan tips ini, dimana saya tidak siap namun saya percaya diri untuk mengangkat tangan dan bertanya kepada mereka. Setelah acara selesai banyak pihak yang menyalami saya dan mengatakan pertanyaan yang sangat bagus dan berguna bukan hanya bagi pesepakbola Indonesia namun juga yang lainnya.

Bahas hanya hal yang anda kuasai
Saat kita tidak siap jangan lagi terbebani dengan materi yang harus anda bisa jelaskan secara lengkap dan detail sebagaimana ketika anda siap. Lupakan apa yang tidak anda ketahui dan mulai Lakukan apa yang anda kuasai. Banyak sekali pembicara yang sedang tidak siap tetap ingin menyampaikan semua materi yang sebenarnya ia tidak kuasai, sehingga pesan yang disampaikan tidak "mengena" ke audiens. Lebih baik untuk fokus kepada hal yang dikuasai atau ketahui untuk disampaikan dengan cara tepat daripada fokus kepada hal yang tidak dikuasai atau tidak diketahui.

Bawakan bahan dengan ringan namun menarik
Saat anda tidak siap dengan 2 tips tadi sekarang anda sudah percaya diri dan membahas hal yang anda kuasai. Percaya diri dan membahas hal yang anda kuasai ini

perlu ditambah lagi dengan membawakannya secara ringan dan menarik. Saat anda membawakan dengan lebih ringan maka diri anda sendiri tidak akan terlalu terbeban  dengan pesan yang akan anda sampaikan, dan selain itu audiens juga lebih mudah untuk mencerna apa yang hendak anda sampaikan. Menyampaikan dengan menarik membuat audiens anda akan memberi perhatian kepada anda walaupun mungkin pesan yang anda sampaikan tidak selengkap dan sedetail yang mereka harapkan. Ringan dan menarik ini mengaktifkan otak kanan audiens, sementara membawakan dengan detail dan lengkap adalah otak kiri. Ketika anda tidak mampu memberikan "makanan" kepada audiens otak kiri anda, mulailah membuat mereka rilex dengan mengkatifkan otak kanannya, sehingga ke krtitisan yang akan diberikan juga berkurang karena mereka pun terbawa dengan bahasan anda yang ringan dan menarik

Akan ada banyak situasi dimana kita tidak siap untuk menyampaikan sesuatu secara publik namun harus kita yang menyampaikan. Silahkan mencoba 3 tips di atas dalam situasi seperti tadi, sehingga jangan lagi anda mengelak dan jangan lagi membuat statement awal untuk dimaklumi, namun sebaliknya justru tampilkan bahwa anda selalu terlihat siap bicara dengan siapa, kapan saja dan dimana saja (walaupun padahal sebenarnya tidak:)). Dari schipol airport menunggu pesawat ke paris-madrid tulisan ini saya berikan khusus untuk 360 community:).

Jangan Lagi Katakan "Ini" Walau Anda Tidak Siap

Saat ini saya masih berada di Amsterdam, Belanda untuk memenuhi undangan yang diberikan Asosiasi Pesepakbola Dunia kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia, dimana saya menjadi salah satu staffnya. Undangan yang diberikan adalah untuk menghadiri Peresmian Kantor baru dimana diakhiri dengan menyaksikan pertandingan final europa league (kalau yang ini pasti banyak yang merasa iri :).

Sebagai informasi saja bahwa kami biasanya menghadiri undangan minimal 2x dalam 1 tahun yakni kongres asia dan dunia, dan untuk acara itu kami pasti memerlukan presentasi yang cukup baik untuk dapat dipresentasikan apalagi menggunakan bahasa inggris. Untuk undangan kali ini saya tidak menyiapkannya karena di awal bulan Juni nanti kami ada kongres asia sehingga kami pikir semua akan kami persiapkan disana. Namun apa yang terjadi? ternyata saat hari kedua saya berada disini kami dari divisi asia diminta untuk mengadakan meeting selama satu jam sebelum salah satu sesi dimulai.

Jadi tepatnya pada hari kedua di tengah cuaca Amsterdam yang sedang dingin jam 11 siang waktu disini kami dari divisi asia mulai berkumpul, kemudian meeting dibuka oleh ketua kami dan yang keluar dari mulutnya bukanlah tentang sharing atau ngobrol2 biasa namun meminta tiap negara untuk memberikan presentasi tentang keadaan negaranya masing-masing. Pernahkah anda dalam situasi seperti ini? karena keadaan maka anda tanpa persiapan harus tetap berbicara di depan publik? Saat itu juga antara Pikiran, Perasaan dan mulut beradu dan saling bertentangan menjadi satu mau memulai dari mana, bicara apa, bahasa yang benarnya seperti apa, namun tetap saja saya harus mengatakannya atau jika bahasa sehari-harinya ini derita gw :). Maka tibalah saatnya saya untuk bicara dan sebenarnya ingin sekali kata pertama saya adalah: Mohon maaf sebelumnya jika saya tidak menyiapkan bahan untuk bicara saat ini, karena saya pikir di acara ini tidak ada presentasi seperti saat ini. Thank God karena saya sering menegur peserta training yang melakukan hal seperti itu, maka saya pun tidak melakukannya sampai akhir presentasi saya. Kalau ditanya apakah presentasi saya memuaskan maka saya mengatakan saya tidak puas, tetapi paling tidak sebagai pembicara kita terlihat siap saat berbicara kapanpun, dengan siapapun dan dimanapun.

Saya beralih ke cerita yang berbeda saat saya hendak berangkat ke Amsterdam di hari minggu kemarin, jam 2 siang saya diundang untuk meeting dengan salah satu klien dari badan pemerintahan untuk menginformasikan penawaran menyelenggarakan acara training yang mereka minta kepada saya. Saya datang dengan pakaian tidak formal ke salah satu hotel di kawasan Karawaci, kemudian disambut oleh PIC dari klien saya, ke salah satu meeting room yang ada di hotel tersebut. Saya tersenyum dan sangat percaya diri untuk menyampaikan penawaran saya kepada pihak yang berwenang disana. Akhirnya saya bertemu dengan 3 orang pimpinan dalam meeting room yang kosong dan saya pikir untuk apa ya bertemu saya saja sampai ada ruangan sebesar ini? Selepas berkenalan PIC tersebut memanggil kurang lebih 20 orang lainya untuk masuk ruangan, dan salah satu pimpinan yang baru saja berkenalan dengan saya membuka acara tersebut dengan formal termasuk memperkenalkan saya dan agenda yang pertama dia mengatakan begini: saat ini telah hadir Valentino Simanjuntak sebagai penyelenggara acara, untuk lebih jelasnya mari kita dengarkan presentasi dari beliau tentang perusahaannya dan konsep acara yang ditawarkan. WOOOW seketika saya memandang PIC yang mengudang saya untuk memberikan kode dengan eye contact kira-kira jika di verbalkan seperti ini: “apa-apaan nih, kenapa gw jadi diminta presentasi, kan loe bilang cuma kasih penawaran doang? Pakaian informal sendirian dan tidak ada bahan presentasi” :), tetapi lagi-lagi seperti yang awal itulah derita saya dan tetap saya harus mulai berbicara. Di awal pembicaraan kembali sama dalam mulut saya sudah ingin melontarkan kata bahwa saya diundang sebenarnya bukan untuk presentasi jadi mohon maaf jika saat ini saya tidak maksimal dalam memberikan presentasi. Namun di saat itu juga pikiran saya mengatakan jika perkataan tadi jika diucapkan hanya akan membuat saya di mata klien tidak profesional dan tidak siap, sehingga saya memilih untuk tetap dengan percaya diri melakukan presentasi seakan-akan saya sudah mempersiapkan untuk presentasi saat itu. Setelah selesai PIC tersebut tersenyum  saja dan bilang sudah pas tadi presentasinya, dan saya juga hanya bisa membalas dengan senyuman.

Dari dua cerita di atas anda bisa saja bertanya apa yang salah jika kita berterus terang kepada audiens kalau kita tidak siap dan meminta maklum pada mereka? jawaban saya adalah berikut ini:

Pembeli yang perlu dimaklumi
Tujuan kita mengatakan excuse memang awalnya untuk dimaklumi, namun audiens datang dengan waktu, pikiran dan tenaga bukan untuk memaklumi kita namun pembicara yang memaklumi mereka. Ini kalau saya analogikan sama dengan pembeli dan penjual, dimana saat anda menjadi penjual maka yang harus dimaklumi adalah pembelinya bukan sebaliknya. Saat pembeli komplain dengan ketidaksiapan layanan penjual maka yang perlu memaklumi adalah penjual bukan justru pembeli yang harus memaklumi ada yang tidak beres. Pembicara seperti penjual, apa yang dijual? perkataannya. Jika di awal anda sudah menunjukan ketidaksiapan, bagaiamana audiens anda akan mendengarkan dan percaya dengan perkataan anda sampai akhir

Siap tidak siap pembicara harus siap
Saat kita ditunjuk atau apapun namanya secara dadakan, sebagai pembicara dan situasi tersebut harus kita lalui, maka siap tidak siap kita harus siap. Katakanlah apa yang memang anda bisa katakan saat itu, terlepas dari latar belakang anda siap atau tidak. Hal ini harus pembicara lakukan untuk menunjukan kredibilitas anda sebagai pembicara.

Kualitas
Saat anda tidak siap namun anda mampu mendapat atensi dan kepercayaan dari audiens tanpa perlu mereka ketahui ketidaksiapan anda disitulah kualitas anda terlihat sebagai pembicara,sehingga audiens yang pada akhirnya mengetahui ketidak siapan anda akan mengatakan jika tidak siap aja sudah sebaik tadi apalagi jika dengan persiapan

Jadi mulai sekarang, jangan pernah lagi untuk anda mengatakan kata-kata mohon maklum karena anda tidak siap, mohon maaf karena anda tidak siap, mohon diketahui bahwa seharusnya bukan saya berada disini, dsb yang intinya sama karena saat kita berbicaa itu derita kita bukan mereka. Kalau begitu bagaimana caranya supaya bisa terlihat siap saat kita tidak siap? tunggu tulisan saya edisi berikutnya.

Valentino Simanjuntak memberikan tulisan ini dari Amsterdam, Belanda :)

'TOUCH UP' NUMBERS

"Price ain't merely about numbers. It's a satisfying sacrifice.”
― Toba Beta, Master of Stupidity 

Data, Fakta, Statistik, Hasil penelitian menjadi bagian penting dari setiap topik pembicaraan yang disampaikan oleh anda sebagai pembicara. Angka tidak bisa dipisahkan kalau kita mau menggunakan data, fakta, statistik tersebut.

Angka Membosankan
Sebelum adanya era presentasi Steve Jobs, angka sering sekali dipergunakan oleh banyak pembicara dengan membosankan, angka terucap dengan sulit untuk dimengerti oleh audiens yang hadir, angka tidak membuat audiens menyadari bahwa
itu penting untuk diketahui audiens.

Ipod touch ini memiliki kapasitas 32 GB

Gaji Samuel Etoo dalam 1 tahun sebanyak 20 Juta dollar

Kasus korupsi tersebut dianggap merugikan negara sebesar 1 triliun rupiah

Follower twitter SBY saat ini sudah mencapai 1 juta dalam 1 minggu

So what? kira-kira itu bisa dikatakan bagi audiens yang tidak mengerti makna angka yang disampaikan di atas jika tidak sesuai dengan bidang mereka.

Audiens yang tidak mengerti apa itu Ipod, akan tidak mengerti makna 32 GB, audiens yang tidak mengetahui mahkluk apakah twitter itu tidak tersentak dengan 1 juta followers SBY, Gaji Etoo bisa dibuat lebih fantastis jika pembicara mengetahui cara menggunakannya. Begitu juga dengan kasus korupsi 1 triliun memang banyak, namun belum tergambarkan sebanyak apa di hadapan audiens.

Angka Menarik

Steve jobs dalam presentasi ipod membuat angka menjadi menarik dengan mengubah kata dari yang sebenarnya bisa cukup dengan :

"Ipod ini memiliki kapasitas 32 GB" menjadi:

"Ipod ini dapat memuat 10000 musik, 7500 foto, 5000 video, dan dapat anda nikmati hanya dengan benda sekecil ini yang bahkan bisa dimasukan ke dalam kantong"

Dalam hal ini tentu saja audiens yang tidak mengerti tentang 32 GB dapat lebih jelas mengerti, bahkan tertarik untuk membeli Ipod tadi dengan teknik penyampaian seperti tadi.

Bagaimana dengan gaji samuel etoo sebesar 20 Juta dollar tersebut? anda bisa melakukan dengan contoh berikut:

Gaji terbesar pesepakbola bukanlah Messi, Ronaldo atau Ibrahimovic melainkan Samuel Etoo. Etoo mendapat gaji sebanyak 20 juta dollar setahun atau setara dengan 194 Milliar setahun berarti 16.167.000.000 sebulan berarti 4.041.750.000 seminggu berarti 577.393.000 sehari berarti 24.500.000 sejam berarti 400.968 semenit berarti 6.700 per detik atau setiap hembusan nafas. Bekerja dimanakah kita yang bisa seperti etoo yang setiap nafasnya ada harganya jika klub ingin merekrut dia?

Dua teknik tadi bisa kita lakukan untuk angka apapun yang akan kita sampaikan yang disesuaikan dengan audiensnya. karena yang paling penting adalah pesan kita menarik dan dimengerti oleh audiens.

Kalau begitu bagaimana dua contoh kalimat lainnya yang saya sebutkan diatas? Nah kalau itu tugas teman-teman untuk mencoba dengan gayanya masing-masing untuk bermain dengan angka tersebut.

Bagaimana membuat angka jadi menarik?

Teman-teman dapat melakukan ini dengan beberapa tips:

  Membagi angka tersebut kepada pemahaman seluruh audiens 
  Mengilustrasikan angka tersebut kepada pemahaman seluruh audiens
  Menganalogikan angka tersebut dengan bahasa yang dipahami seluruh audiens


Selamat berlatih untuk membuat angka menjadi menarik dalam pesan pembicaraan anda sehingga audiens bukan saja tertarik namun juga mengerti.

Pembicara Terpercaya

To be trusted is a greater compliment than being loved.
-George Macdonald- 

Satu hal yang membuat PENDENGAR mau mendengar PEMBICARA  dan melakukan apa yang menjadi pesannya adalah adanya KEPERCAYAAN !!! Pendengar akan percaya dengan pesan yang disampaikan apabila pendengar tersebut terlebih dahulu percaya terhadap pembicaranya. Contoh menarik dapat dilihat pada acara yang sedang booming saat ini, yakni The Voice.

Dalam acara tersebut, pada saat terjadi perebutan yang melibatkan lebih dari 1 coach terhadap 1 orang peserta untuk bergabung ke dalam tim nya, maka Coaches akan menggunakan kemampuan berbicara untuk meyakinkan peserta tersebut bergabung ke dalam timnya, terlepas dari latar belakang ataupun seberapa terkenalnya coach tersebut.

Tulisan kali ini terinspirasi dari episode 1 'blind audition' The Voice season-4 versi Amerika Serikat. Dalam season 4 ini, terdapat 2 coach baru yaitu Shakira yang menggantikan Christina Aguilera dan Usher yang menggantikan CeeLo, sedangkan 2 coach yang masih bertahan yaitu Adam Lavine dan Blake Shelton.

Saat melihat acara tersebut, saya mendapatkan insight bahwa pesan seseorang akan dipercaya apabila si pembicara menggunakan 3 hal di bawah ini:


Be Genuine
Banyak diantara kita saat berbicara tidak menunjukan originalitas diri kita sendiri, entah karena memaksakan diri menjadi orang lain agar diterima oleh pendengar, atau sekedar ingin menjaga image di hadapan pendengar.
Apapun alasannya jangan lakukan itu lagi!!!

'Keaslian dari diri kita adalah keunikan yang hanya dimiliki oleh diri kita sendiri' (silahkan kalau mau di tweet, mention @radotvalent ya:) ). Originalitas diri kita saat berbicara akan dapat menunjukan kesungguhan dari kata yang terucap (kalo ini juga mau di tweet silahkan, hehehe). Originalitas inilah yang akan membuat pendengar dapat mempercayai pesan dari pembicara itu atau tidak.

Dari antara ke-4 Coaches tadi, hanya Blake Shelton yang tidak familiar bagi saya, namun dia sukses membawa Cassadee Pope di episode 3 menjadi juara. Peserta pertama (yang ditayangkan tv) adalah wanita kembar yang saat mereka bernyanyi membuat semua juri berputar balik dari kursinya. Sebagaimana kita tahu, ketika ke-4 coaches meginginkan peserta audisi, maka terjadi 'jual diri' yang seru diantara mereka, dimana untuk peserta ini akhirnya Blake yang terpilih. Alasan yang dikemukakan saat di belakang panggung mereka memilih Blake dibandingkan Adam, Shakira atau bahkan Usher adalah originalitas Blake saat ‘menjual’ dirinya yang menunjukan ketulusan ingin melatih mereka untuk menjadi penyanyi yang lebih baik.

Show Your Strength
Di dalam salah satu kesempatan saat coaches saling berbicara, mereka saling tertawa karena masing-masing mereka memilki jurus andalan untuk merayu peserta bergabung dengan timnya masing-masing. Adam Lavine di saat itu berkata, ”Inilah The Voice dimana masing-masing mengeluarkan jurus rayuan dengan kekuatan masing-masing di industri musik.'
Strength, kata yang memang jika dipikirkan akan menjadi sambungan dari Genuine. Maksud saya seperti ini, ketika kita berbicara sebagaimana adanya kita maka keunikan
dari diri kita akan muncul. Unik itu sendiri akan semakin terbentuk dan melekat dalam identitas seseorang ketika terus digali, dilatih dan dilakukan yang menjadi kekuatan (Strength).
Kekuatan saya sebagai pembicara adalah saya membawakan materi dengan konsep edutainment yakni memberikan pengetahuan bagi pendengar namun dengan cara yang menghibur. Saya adalah pembicara yang dapat sekilas terlihat formal dengan penampilan luarnya namun ternyata sangat informal ketika sudah memulai menyampaikan materinya, dan itulah keunikan yang akhirnya menjadi kekuatan saya.
Kekuatan usher ada pada menciptakan artis baru di AS salah satunya Justin Bieber, dan itu juga yang sering menjadi senjatanya untuk merayu, dan ketika ia beradu rayuan bersama Shakira untuk medapatkan salah satu kontestan, kekuatan Usher itu yang akhirnya dipercaya oleh kontestan untuk membuatnya masuk ke dalam tim.

Think before speak
Untuk dapat dipercaya, seorang pembicara harus dapat mengendalikan antara pesan yang ada di dalam pikiran dengan yang sudah ada di ujung mulut. Mengapa demikian? Karena saat kita sedang berbicara, khususnya saat perasaan lebih mendominasi daripada pikiran, maka sering terjadi perkataan-perkataan yang tidak seharusnya kita ucapkan justru terucap dan membuat pendengar tidak percaya kepada kita. Saya teringat dengan ucapan salah satu psikolog, bahwa ada pesan yang perlu tetap hanya berada di pikiran dan perasaan saja, ada pesan yang  boleh diucapkan, dan ada pesan yang memang perlu diucapkan.


Saat ada seorang kontestan yang membuat Usher terpincut dia berucap bahwa 'Nashvile adalah negara bagian' itu yang membuat Adam dan Blake tertawa karena Nashville adalah ibukota negara bagian Tennesee. Saat diwawancara Usher mengakui
itu terucap bukan karena dia tidak tahu, namun sebegitu besarnya dia mau mendapat impresi yang baik dan kepercayaan dari kontestan yang membuatnya melakukan kesalahan fatal tersebut. Dia sendiri menambahkan bahwa terkadang orang tidak berpikir dulu sebelum mengucap sesuatu ketika emosionalnya sedang tinggi.

Jika saya dan anda yang salah seperti tadi mungkin masih hal yang biasa, namun ketika seorang public figure seterkenal dan berpengaruh seperti Usher, tentu kesalahan seperti ini akan menjadi berita besar yang cukup memalukan bagi dirinya. 


Teman-teman, jika ingin menjadi pembicara yang dipercaya mulailah dari sekarang untuk tampil apa adanya diri anda untuk menjadi solusi bagi pendengar, tunjukan dimana letak kekuatan anda sebagai pembicara dan selalu ingat untuk menyampaikan pesan yang sudah ‘lolos sensor’ dalam pikiran anda, daripada hanya sekedar mengikuti emosi anda.

OTORITAS PEMBICARA

Saat seseorang berbicara di depan publik, maka akan banyak tipe publik yang akan kita hadapi, mulai dari tipe yang terlihat mendukung sampai mengintimidasi si pembicara. Jika saja semua audiens bersikap mendukung maka itu yang biasanya menambah kepercayaan diri si pembicara, namun kenyataannya justru seringkali audiens yang hadir adalah tipe yang mengintimidasi atau “paling tidak” menurut pemikiran pembicara begitu. Biasanya tipe audiens yang demikian atau “dianggap demikian” adalah Bos kita di kantor, Senior kita, orang yang lebih berpengalaman, yang memiliki gelar lebih banyak dari kita.

Saya sengaja memasukan kata “paling tidak” dan “dianggap demikian” dalam paragraf diatas karena sering terjadi justru sebenarnya yang mengintimidasi adalah pemikiran kita sendiri terhadap audiens tersebut. Kita sudah memiliki penilaian terlebih dahulu terhadap audiens, bahkan sebelum audiens tersebut menilai kita. Dalam banyak kasus seperti ini, sering juga terjadi pemikiran tersebut timbul saat kita berbicara sementara bahasa tubuh audiens kita ‘pikir’ tidak suka dengan materi kita sehingga akhirnya kita sendiri yang terintimidasi. Dalam tulisan ini saya hendak berbagi bahwa baik kepada audiens yang memang benar-benar mengintimidasi ataupun karena pemikiran negatif kita saja namun “the show must go on”, karenanya sebagai pembicara kita harus mengambil alih otoritas saat kita tampil.

Salah satu pengalaman saya yang tidak akan terlupakan adalah saat saya berbicara di hadapan seluruh Humas Polri di PTIK, mulai dari Kadiv Humas POLRI (kala itu Bpk. Edward Aritonang), seluruh Kabid  Humas Polda dan jajaran humas di bawahnya yang jumlah total audiensnya sekitar 150 peserta. Saya ketika itu juga baru sembuh dari penyakit Demam Berdarah sehingga di dalam badan saya mengalir keringat dingin gabungan antara keadaan tubuh yang baru sembuh dengan ketegangan berbicara di hadapan audiens tadi.
Perasaan terintimidasi mulai terasa ketika saya memulai acara dimana semua peserta tampak mengikuti respon dari pimpinan mereka yang duduk di bagian paling depan (seluruh kabid humas Polda), yang artinya jika pemimpin mereka diam maka yang lain pun diam, dan jika pemimpin mereka tersenyum maka mereka tersenyum. Saya semakin terintimidasi karena sebelum acara,  di briefing bahwa penampilan saya ini sebagai pilot project sekaligus ujung tombak perusahaan training tersebut apakah akan mendapat “program berkelanjutan” dari Kepolisian Republik Indonesia atau tidak.

Saya memulai penampilan dengan berusaha meraih perhatian mereka agar lebih rilex, namun karena keliatannya saya juga tegang (terlihat dari suara saya yang bergetar dan keringat yang terus mengucur) semua auidens tidak merespon sebagaimana yang saya inginkan. 15 Menit awal berlalu dan ketegangan semakin menjadi padahal acara akan berlangsung selama 6 jam, sampai akhirnya salah satu wakil Kabid Humas memberi saya sepucuk ‘surat cinta’ yang isinya :”tenangkan diri Valent, jangan tegang, kami mendukungmu’. Seketika saya tersenyum kepada bapak tersebut dan berusaha menyangkal dalam diri bahwa saya keringetan karena habis sakit, padahal sebenarnya ada dampak juga dari ketegangan dan rasa terintimidasi.
Setelah itu saya menyadari bahwa saya kehilangan otoritas saya karena merasa ada di bawah tekanan audiens di hadapan saya. Perasaan-perasaan yang justru melemahkan saya sebagai pembicara, yakni “siapa saya bisa berbicara untuk mereka?”, “polisi pasti males ikutan training”, “kalo saya jelek gimana ni sama perusahaan saya?” dll sampai akhirnya saya merespon keadaan tersebut untuk mengambil alih lagi otoritas yang saya miliki dengan kembali berbicara dengan menjadi diri saya sendiri yang nyaman untuk saya tampilkan. Hasilnya? Saya dianggap sukses, sampai hari ini dapat menjalin komunikasi dengan para Kabid Humas tersebut, dan perusahaan lembaga training yang mempekerjakan saya mendapatkan program berkelanjutan dimana salah satunya adalah melatih etika dan skill komunikasi untuk Polantas Polda Metro Jaya dimana saya mendapat 12 batch untuk saya training.

Dari pengalaman saya tadi jelas bahwa siapapun yang menjadi audiens kita saat jadi pembicara, otoritas haruslah ada pada pembicara karena di momen tersebut, semua yang hadir siapapun mereka, apapun jabatannya, berapapun usianya, mereka semua dalam posisi mendengarkan kita.
2 hal yang dapat saya bagikan untuk bisa mengatasi pikiran atau perasaan terintimidasi saat kita berbicara adalah:
1.      Naked Listeners
Memang benar bahwa audiens kita bisa saja orang-orang yang ada di ‘atas’ kita, namun saat kita berbicara mereka semua sedang mendengarkan kita. Karenanya, naked listeners berbicara tentang menganggap semua pendengar adalah sama derajatnya dari baris paling depan sampai belakang dan sederajat dengan kita sang pembicara. Dengan memandang seperti itu kita bisa tampil lebih lepas seperti biasanya kita
2.      Naked Speaker
Setelah memandang audiens sederajat, sekarang semua ada pada diri kita sendiri sebagai pembicara, apakah kita mau menjadi orang lain atau menjadi diri sendiri. Kalau saya memilih sebagai diri sendiri dengan ciri khas yang memang saya miliki sebagai pembicara. Ciri khas didapat dari kekuatan kita menampilkan diri sebagai pembicara, ada yang lucu, tegas, elegan, kreatif dsb.


Demikian tulisan saya kali ini, semoga membantu anda yang mengalami masalah seperti saya tadi dan mencegah anda dari pengalaman saya tadi bagi anda yang belum mengalaminya.

Mengurangi “Filler Words” saat berbicara di depan publik

Hallo ‘teman 360 community’, di awal tulisan kali ini saya ingin meminta anda membayangkan terlebih dahulu apabila ada seseorang yang menjadi pembicara dalam suatu acara dan kira-kira pembukaannya seperti ini:
“Salam sejahtera hadirin sekalian, (eee eee), hari ini senang sekali saya (eee eee) Valentino Simanjuntak (eee eee) dapat berdiri di hadapan (mmm mmm) hadirin semua untuk berbicara tentang (mmm apa namanya) public speaking”

Ok cukup membayangkannya sampai disitu saja, karena kalau di awal bicara saja sudah sedemikian banyak filler words nya apalagi kalo pembicara tadi harus berbicara sampai 1 jam? Ratusan eee, mmm, ccck, apa namanya dll yang disebut filler words itu pasti akan terucap. Saya sering katakan dalam pelatihan bahwa ketika audiens tampaknya tertarik dengan pembicara yang banyak mengucapkan filler words maka sebenarnya itu salah besar karena audiens justru sedang bertaruh akan berapa banyak total filler words yang terucap sampai akhir pembicaraan. Hal ini tidak bisa dihindarkan audiens karena paling tidak itu dapat mengurangi dan mengusir rasa mengantuk, bosan atau bahkan kasihan karena mendengar pembicara yang seperti tadi.

Apakah anda pernah mendengar seseorang berbicara dengan banyak filler words seperti tadi? Atau justru anda juga mengalami hal yang sama? Nah, ini adalah salah satu masalah klasik dan menjadi pertanyaan terpopuler dari banyak peserta pelatihan yang saya latih, yakni bagaimana bisa mengurangi atau kalau bisa menghilangkan filler words ini?

Dalam tulisan ini saya akan memberikan tips mengurangi filler words agar anda tidak menjadi bahan taruhan dan tertawaan seperti cerita saya di awal.

Mindset “TIDAK BISA” dibuang jauh-jauh
Sebagaimana yang saya sering katakan bahwa public speaking adalah skill atau ketrampilan, yakni sesuatu yang dapat dilatih dan dikembangkan, bukan suatu hal yang hanya dapat dimiliki seseoranga dan tidak dapat dimiliki orang lain. Begitupun juga ketika anda ingin mengurangi filler words, maka mindset bahwa mengucapkan kata-kata tersebut tidak akan bisa harus dibuang terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena ketika pemikiran kita sudah mengatakan tidak bisa, maka juga akan mempengaruhi pemikiran bawah sadar kita, sehingga semua anggota tubuh kita sekaan menolak setiap pengajaran, pelatihan untuk dapat mengurangi filler words dari yang biasa kita ucapkan. Saya ingat ketika sedang mengikuti pelatihan public speaking, fasilitatornya mengatakan bahwa filler words bisa dikurangi karena sudah ada teknik penangkalnya, tinggal mau atau tidak kalian (kami sebagai audiens) semua melatihnya. Jadi issue nya sekarang bukanlah lagi bisa atau tidak bisa, namun mau atau tidak mau anda semua melatihnya.

JEDA
Di dalam teknik vokalisasi dalam public speaking kita mengenal teknik jeda yakni membiarkan beberapa saat keadaan hening untuk memberikan momen bagi pendengar untuk merenungkan dan memikirkan apa yang baru diucapkan oleh pembicara. Nah, jeda juga dapat memiliki fungsi bagi pembicara untuk memikirkan dengan cepat kata apa yang akan diucapkan setelah itu, daripada harus mengeluarkan filler words.

Sebagai ilustrasi dalam sebuah seminar saya mengatakan hal berikut ini:
‘Public Speaking memerlukan 3 komponen agar pesannya dapat diterima yakni pesan, suara, dan bahasa tubuh.’

Terkadang filler words muncul tanpa kita undang entah karena kebiasaan, ketika kita gugup, ketika kita lupa atau bahkan gabungan semuanya sehingga yang sebenarnya sudah dipersiapkan bahkan dihafal dapat menjadi seperti ini:
‘Public Speaking memerlukan 3 komponen agar pesannya dapat diterima yakni (eeee) pesan, suara, dan (eeee) bahasa tubuh’.

Terkadang dalam hidup walau kita sudah antisipasi hal yang kita hindari tetap terjadi, begitupula dengan kejadian di atas, walaupun sudah kita persiapkan namun tetap saja ada kejadian atau momen yang membuat kita mengucapkan filler words tersebut.

Disinilah peran dari teknik JEDA, sehingga selain tidak mengucapkan eee eee atau filler words lainnya, namun juga secara tidak sengaja dapat memberikan momen kepada audiens untuk merenungkan apa yang baru saja kita ucapkan dan menantikan apa yang akan kita ucapkan berikutnya, sehingga masi dari ilustrasi yang tadi maka kalimat tersebut akan terucap:
Public Speaking memerlukan 3 komponen agar pesannya dapat diterima yakni (jeda) pesan, suara, dan (jeda) bahasa tubuh.

Mohon diingat bahwa jeda ini dilakukan bukan karena sudah dipersiapkan sejak awal namun dilakukan untuk menghalangi mulut kita mengucapkan filler words. Tentu saja jeda ini tidak dapat dilakukan dalam waktu lama, maksimum 3 detik pembicara sudah harus melanjutkan ucapannya, kalau tidak maka audiens akan mengetahui bahwa sebenarnya jeda tersebut memang karena pembicara tidak tahu lagi atau lupa atau mati gaya mau mengatakan apa berikutnya.

MEMANJANGKAN KATA
Banyak yang ragu ketika saya memberikan teknik ini dalam pelatihan yang saya lakukan , sampai akhirnya mereka percaya ketika saya praktekan. Teknik ini sangat efektih terutama ketika momen untuk mengucapkan filler words itu terletak di kata sambung seperti; dan, serta, atau, tetapi, melaikan, padahal,sedangkan,dll. Sebagai ilustrasi untuk teknik ini saya berikan contoh kalimat yang seharusnya diucapkan: “Pembicara yang baik harus menguasai 2 hal penting yaitu menyajikan data dan menyampaikan cerita untuk dapat meyakinkan audiensnya, tetapi kebanyakan pembicara saat ini tidak peduli akan hal itu, padahal jika 2 hal tadi dipersiapkan pasti respons audiens akan lebih baik”

Kita dapat melihat dari kalimat di atas banyak digunakan kata sambung, dan sebagai pembicara kita sering terbiasa mengucapkan filler words sesaat setelah kata sambung. Teknik memanjangkan kata ini sangat membantu pembicara untuk tidak menggunakan filler words tanpa diketahui oleh audiens bahwa sebenarnya itu dilakukan oleh pembicara karena menghindari filler words yang sudah ada di ujung mulutnya untuk diucapkan. Dari kasus kalimat tadi maka pembicara bisa seperti ini pengucapannya: “Pembicara yang baik harus menguasai 2 hal penting yaitu menyajikan data dan (mmm) menyampaikan cerita untuk dapat meyakinkan audiensnya, tetapi (eeee) kebanyakan pembicara saat ini tidak peduli akan hal itu, padahal (pcck eee) jika 2 hal tadi dipersiapkan pasti respons audiens akan lebih baik”
Dengan teknik ini maka akan lebih nyaman terdengar bagi audiens , menjadi:
“Pembicara yang baik harus menguasai 2 hal penting yaitu menyajikan data da(aaaa)n menyampaikan cerita untuk dapat meyakinkan audiensnya, tetapi(iiii) kebanyakan pembicara saat ini tidak peduli akan hal itu, padaha(aaaa)l jika 2 hal tadi dipersiapkan pasti respons audiens akan lebih baik”
Teknik memanjangkan kata ini justru juga dapat memberi penekanan dari kata sambung tersebut untuk mendapat perhatian audiens. Sebenarnya dalam kata lain juga ini dapat dipergunakan, namun saya sarankan dipergunakan dalam kata sambung. Sama seperti teknik JEDA tadi, bahwa karena ini diucapkan bukan dari bagian persiapan maka jangan terlalu panjang digunakan karena justru akan mengacaukan konsentrasi audiens bahkan bisa ditertawan.

MENGULANG KATA
Teknik ketiga ini sangat mengasyikan untuk dilakukan karena teknik inilah yang memberikan waktu terlama untuk berpikir mengucapkan kata selanjutnya tanpa mengucapkan filler words sembari memberi penekanan dan hal yang mampu diingat oleh audiens. Jadi teknik ini memiliki makna ganda yang paling sama menguntungkannya antara audiens dan pembicara.

Saya akan berikan contoh ilustrasi berikut ini:
“Terdapat 4 teknik story telling dalam public speaking, yakni: Menceritakan pengalaman sendiri, menceritakan pengalaman orang lain yang kita dengar, menceritakan hal dari literatur, menceritakan hal dari karangan sendiri.

Teknik menggunakan penomoran seperti ini perlu persiapan yang khusus, karena jika kita sudah sebutkan ada 4 maka audiens akan menghitung berapa banyak kita sudah mengucapkan tekniknya, sebaliknya bagi pembicara terkadang kita ingat 4 tekniknya di mulut saja namun saat diucapkan kita bisa lupa, perlu melihat alat bantu dsb yang memancing filler words untuk diucapkan. Sehingga bisa seperti ini:
“Terdapat 4 teknik story telling dalam public speaking, yakni: Menceritakan pengalaman sendiri, (lalu aaaaa) menceritakan pengalaman orang lain yang kita dengar, menceritakan hal dari literatur, (trakir mmmm eeee) menceritakan hal dari karangan sendiri.

Saat kita sempat menunjukan diri sedang lupa atau blank audiens ada yang empati kepada kita namun ada juga yang mengejek kita dimana keduanya menurut saya sama tidak menguntungkannya bagi si pembicara. Dengan teknik ini kita dapat diberi waktu untuk mengingat kembali dan memberi kesempatan bagi audiens untuk mengulang mengatakan atau mengingat apa yang sudah kita katakana sebelumnya.

Pada contoh tadi maka akan menjadi:
“Terdapat 4 teknik story telling dalam public speaking, yakni: Menceritakan pengalaman sendiri,(menceritakan pengalaman sendiri lalu) menceritakan pengalaman orang lain yang kita dengar, menceritakan hal dari literatur, (menceritakan pengalaman sendiri, orang lain, dari literature dan terakhir) menceritakan hal dari karangan sendiri.

Teknik ini semakin efektif dilakukan sambil memberi kode dengan ekspresi wajah kita untuk mengajak audiens berinteraksi dan mengikuti kita mengulang apa yang sudah kita ucapkan, sehingga seakan-akan kita memang sudah mempersiapkan untuk melakukan ini.

Jangan lupa bahwa inipun tidak kita persiapkan untuk kita lakukan, sehingga jangan mengulang-ulang terus tanpa ada kelanjutan ucapan kita, karena hanya akan menurunkan kredibilitas kita sebagai pembicara.
Teknik-teknik di atas bisa terkesan simple bisa juga sulit tergantung dari perspektif mana kita melihat, namun yang dapat saya pastikan, seperti iklan salah satu produk minuman “trust me, it works”. Saya adalah salah satu produk sukses dari teknik diatas yang merubah kemampuan saya berbicara khususnya mengurangi filler words setiap saya bicara.

Jika saya bisa berubah dengan teknik tadi, maka anda pasti juga bisa. Yang terutama hanyalah apakah anda MAU atau TIDAK? Selamat berlatih

GUGUP itu Normal


Bagaimana mengatasi kegugupan ketika berbicara di depan publik (juga) menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan ketika saya memberikan pelatihan public speaking. Gugup timbul biasanya karena 2 hal yakni hasrat yang besar dan ketegangan, bisa berdiri sendiri maupun bercampur menjadi satu.

Ketika perasaan ini muncul dalam diri seseorang maka dia sendiri akan merasakannya, biasanya keringat mengucur deras walau di ruang ac sekalipun, jantung berdebar kencang, sakit perut walaupun tidak ingin konstipasi, selalu ingin buang air kecil, tangan yang basah. Hal inilah yang kemudian juga membuat orang dapat megetahui seseorang sedang mengalami ketegangan, karena akhirnya hasil dari yang terjadi di dalam dirinya tersebut diperlihatkan melalui bahasa tubuh dan suara.

Ketika seseorang mengalami kegugupan kita akan dapat dengan mudah mengetahui dari bahasa tubuh melalui expresi wajahnya, gerakan tangan yang kaku atau terlalu banyak bergerak, postur badan yang tidak relax. Selain bahasa tubuh kita bisa juga melihat kegugupan seseorang dari suaranya karena seseorang yang gugup akan mengeluarkan suara yang beradu cepat dengan nafas dan terbata-bata. Hal ini dapat terjadi bukan karena suatu kebetulan atau ada kesalahan dengan orang yang mengalaminya, melainkan karena ada zat hormonal yang keluar dari tubuh kita yang reaksinya menjadi seperti tadi yang disebut ENDORFIN dan ADRENALIN, jadi bagi siapapun yang mengalaminya sekali lagi saya katakan anda NORMAL.

Dalam bahasa sehari-hari endorfin adalah suatu zat hormonal yang keluar di dalam tubuh ketika diri seseorang mengalami hasrat/kegairahan dalam dirinya. Misalnya ketika seseorang sedang jatuh cinta khususnya saat masih pacaran hormon ini muncul sangat banyak sehingga segala sesuatu terlihat menyenangkan, inilah mengapa ketika jatuh cinta rasanya harus bolak-balik mengantarkan pacar pergi dan pulang sampai ke rumahnya tidak terasa jauh karena hormon ini membuat seseorang menggebu-gebu.
Sementara adrenalin muncul ketika ada rasa kuatir untuk melakukan sesuatu sehingga setiap adrenalian ini muncul membuat kuatir dan ketakutan menguasai seseorang yang mengalaminya. Seseorang yang mengalami phobia ketinggian adrenalinnya akan meningkat seketika ketika berada di gedung yang tinggi.

Nah salah satu penelitian menunjukan bahwa berbicara di depan publik adalah gabungan antara endorfin dan adrenalin yang muncul dalam diri seseorang saat akan melakukannya, jadi anda dapat bayangkan bagaimana kacaunya perasaan yang terjadi pada orang yang mengalaminya.

Nah dengan mengetahui apa dan mengapa seseorang dapat gugup ketika berbicara di depan publik, maka bagaimana untuk mengatasinya pun dapat terjawab secara jelas dan practicable.

HASRAT SAJA TIDAK CUKUP
Seseorang yang memiliki hasrat (passion) biasanya membuat ia bersemangat ketika ia akan melakukan passion-nya tersebut. Hal ini sebenarnya menjadi faktor terpenting bagi seseorang untuk dapat menikmati apa yang dilakukannya, namun terkadang passion ini tidak dibarengi dengan pengetahuan dan skill yang mumpuni sehingga hasilnya pun tidak maksimal.
Masalah dalam passion juga dapat muncul ketika seseorang terlalu excited dan terlalu percaya diri  sehingga ia hanya mengandalkan semangatnya saja tanpa dibarengi kemampuan yang diperlukan di dalam hal yang sedang ia lakukan tersebut.
Passion tetap memerlukan persiapan, ya saya ulang sekali lagi bahwa passion memerlukan persiapan. Persiapan sangat diperlukan untuk dapat memperlengkapi seseorang ketika sedang melakukan passion nya. Hal ini juga berlaku di dalam dunia public speaking, dimana ketika seseorang begitu menantikan kesempatan ingin berbicara di depan publik dan kemudian ia mendapatkan kesempatan itu, maka perasaan excited dapat berubah menjadi gugup karena perasaan yang saya sebut 'terlalu menantikan'.
Nah ketika seseorang sudah melakukan persiapan yang matang sebelum berbicara maka ketika kegugupan yang diakibatkan 'terlalu menantikan' itu muncul, orang ini sudah dapat mengendalikannya dengan materi bicara yang telah tersusun rapih dan terlatih untuk tinggal disampaikan.

Persiapan yang diperlukan bagi seseorang sebelum berbicara di depan publik adalah:
  Materi yang akan disampaikan
  Bagaimana cara menyampaikan materi tersebut
  Penampilan kita saat membawakan materi itu

Mengenai ketiga hal diatas saya akan membahasnya lebih detail di dalam kesempatan lain.

KEKUATIRAN PERLU DIBUKTIKAN
Kekuatiran adalah faktor lain bagi seseorang menjadi gugup saat akan berbicara di depan publik. Berbicara mengenai kekuatiran, biasanya muncul karena belum memiliki pengalaman dalam public speaking atau memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dalam public speaking.
           
           
Pikiran Positif Itu Wajib
Kekuatiran muncul dalam pikiran seseorang sebelum pikirannya tersebut terbukti benar atau tidak, karenanya diperlukan obat penawar pikiran, yakni pemikiran yang positif bagi seseorang sebelum melakukan public speaking.

Perkatakan Positif Tentang  Diri Anda
Terlalu banyak saya melihat seseorang melabeli dirinya sendiri dengan perkataan negatif, pesimis, dan rendah diri. Mulai sekarang jangan lakukan itu lagi dan perkatakan yang sebaliknya. Sekarang saya minta anda untuk menuliskan 10 hal positif tentang diri anda, seperti ”saya bisa, saya mampu, saya keren, saya berani, dll nya”. Tidak berhenti disitu, saya minta kata positif itu anda cetak dan buat piguranya lalu pasang di atas pintu keluar kamar sehingga setiap hari memulai aktivitas, anda dapat membaca itu setiap saat sehingga anda melabeli diri sendiri dengan positif.


Anchoring
Selain pemikiran positif, untuk melawan kekawatiran ini juga dapat dilakukan dengan melakukan kebiasaan yang dapat membuat diri kita tenang, yang dikenal dengan anchoring. Anchoring ini dilakukan sesuai kenyamanan yang dapat diberikan 5 panca indera bagi diri seseorang, misalnya:
  Indera pendengaran         : seseorang mendengar musik tertentu agar PD
  Indera penglihatan            : seseorang membayangkan dirinya tampil baik agar PD
  Indera Perasa                    : seseorang mengunyah sesuatu agar PD
  Indera penciuman             : seseorang mencium bau sesuatu agar PD
  Indera peraba                    : seseorang perlu memegang sesuatu agar PD

Persiapan x (Pikiran + perkataan positif +Anchoring) sudah dilakukan, maka tinggal satu hal lagi yang justru krusial yang harus dilakukan, apa itu? tidak lain dan tidak bukan adalah PRAKTIKAN, mengapa? karena endorfin dan adrenalin tadi akan menemukan titik klimaksnya saat kegiatan tersebut dilakukan.

Bahkan salah satu profesor di AS meneliti dan mengatakan bahwa saat public speaking telah dilakukan maka perasaan yang muncul adalah sama dengan saat hubungan intim pasangan suami isteri telah mencapai klimaks (#naaaah). Saat public speaking sudah dilakukan maka setelah itu seseorang baru dapat berkata 'haaaaah akhirnya', tinggal kemudian dapat menilai dan melakukan evaluasi atas penampilannya.

Jadi mulai sekarang jika kegugupan itu muncul ini yang harus anda lakukan:
  Akui saja kalau anda gugup
  Persiapan matang
  Lakukan saja (Just do it)


Semoga tips kali ini dapat membantu anda untuk bisa mengatasi kegugupan saat akan melakukan public speaking.