Kamis, 22 Agustus 2013

Berbicara dengan Bercerita

“Great stories happen to those who can tell them” – Ira Glass


Sudah hampir 2 bulan #bukamulutLIVE menggunakan teknik story telling dengan tema yang berbeda-beda. Sudah lebih dari 50 speakers di 360 community menjajal stage Coffee Toffee Hang Lekir untuk melatih kemampuan public speaking dengan teknik ini.

Mengapa teknik story telling dipilih untuk menjadi tema pertama dalam #bukamulutLIVE? Hal ini tidak lepas dari kenyataan di market place bahwa apapun latar belakangnya seseorang yang tepat menggunakan teknik ini mampu mendapat kepercayaan pendengarnya sehingga setiap pesan yang disampaikan dapat dimengerti, mempengaruhi, meyakinkan bahkan merubah opini seseorang.

Story telling yang dulu lebih dikenal untuk menidurkan kita selagi kecil, sekarang ini justru dipakai dimana-mana mulai dari sales, marketer, PR, HR, Guru/Dosen, Leaders dan sebut apa saja maka kemampuan bercerita saat berbicara saat ini benar-benar powerful.

Mengapa itu bisa terjadi? Karena otak kita terdiri dari 2 bagian inti yang berbeda isinya yakni otak kiri untuk angka, fakta, data sementara otak kanan untuk analogi, imajinasi dan cerita. Dipelajari bahwa saat mengambil keputusan seseorang bukan hanya membutuhkan logika (otak kiri) namun juga emosi (otak kanan) karenanya story telling menjadi begitu popular digunakan.

Coba saat ini anda ingat-ingat saat anda hendak memilih kampus mana yamgg mau dipilih, kantor mana yang hendak dimasukan lamaran, restoran mana yang perlu dicoba, film baru mana yang perlu ditonton, dll. Apakah anda langsung membuat keputusan dengan hanya mengetahui dari iklan atau anda lebih yakin saat ada orang lain yang sudah mencoba sebelumnya menceritakan kepada anda? :)

Kemampuan menyampaikan cerita dibagi menjadi 2 hal yakni:
1.      Knowing the Right Story
Menyampaikan cerita yang tepat ini berkaitan dengan apa tujuan dari disampaikannya cerita anda ini? Anda harus tentukan cerita yang paling tepat dengan tujuannya.

Menyampaikan cerita yang tepat mencakup:
·         Communicating Who You Are
·         Communicating Who the Company Is
·         Sharing Knowledge
·         Leading People

2.      Telling  the Story Right.
Bercerita dengan tepat adalah teknik menyampaikan cerita yang sudah ditetapkan tadi 'mengena' di pikiran dan perasaan yang melihat dan mendengarkan.

Bercerita dengan tepat ini mencakup:
·         Style
·         Truth
·         Preparation
·         Delivery

Ketika anda sudah mampu untuk menyampaikan cerita saat anda berbicara dengan tepat maka anda akan melihat bahasa tubuh yang menyenangkan dari audiens, dan yang terpenting apa yang menjadi tujuan pesan anda akan dipercaya dan diresponi sesuai keinginan anda.

Jadi mulai sekarang kapanpun ada kesempatan anda berbicara, selalu gunakan teknik ini dan anda akan lihat hasilnya :)

Rabu, 21 Agustus 2013

ANALOGI UNTUK MENYAMAKAN FREKUENSI

One good analogy is worth three hours discussion.  -Dudley Field Malone

Sudah 2 bulan ke belakang teman-teman dapat berlatih public speaking dengan teknik "story telling" yang digunakan sebagai salah satu teknik dalam berbicara untuk dapat engage, connect, related, dan menarik perhatian pendengar. Sangat senang melihat  teman-teman yang kami lihat sangat potensial dan nyaman untuk menggunakan teknik tadi dalam penyamapaian materinya.

Di bulan ini kita masuk ke teknik baru yang memiliki tujuan yang sama dengan teknik story telling yaitu bagaimana pesan yang hendak kita sampaikan dapat berada dalam suatu 'frekuensi' yang sama dengan pendengar. Teknik yang dipakai selama bulan Juli ini adalah teknik analogi atau perumpamaan.

Analogi adalah suatu proses penalaran dengan menggunakan perbandingan dua hal yang berbeda dengan cara melihat persamaan dari dua hal yang di perbandingkan tersebut sehingga dapat digunakan untuk memperjelas suatu konsep.

Analogi diperlukan mengingat saat kita berbicara sekali lagi saya katakan bahwa kita belum tentu berada di dalam suatu 'frekuensi' yang sama dengen pendengar. Frekuensi yang saya maksud adalah "mindset, values, beliefs, knowledge" antara anda sebagai pembicara belum tentu sama dengan pendengar. Adanya gap tersebutlah yang dapat diminimalisir dengan penggunaan teknik analogi ini.

Dalam berbagai kesempatan saat saya diundang untuk berbicara mengenai 'pasangan hidup', saya berhadapan dengan audiens yang berbeda-beda dengan beragam frekuensi tentang topik tadi. Untuk bisa mengurangi gap tadi, dengan rata-rata usia audiens yang sudah mampu untuk mengendari mobil sendiri saya sering menganalogikannya dengan berikut ini:

"Tidak memiliki pasangan hidup dapat dianalogikan seperi saat kita berkendara tanpa kaca spion. Tanpa itu sebenarnya kita mampu untuk tetap dapat berkendara, TETAPI akan jauh lebih MUDAH bagi kita saat di jalan, dan tentu menjadi lebih CEPAT sampai di tujuan, NYAMAN, dan AMAN saat kita memiliki spion di kendaraan kita. Jadi pastikan untuk memiliki pasangan yang memang dapat berguna seperti spion itu, bukan justru membuat kita mengalami kecelakaan dalam perjalanan".

Analogi tadi saya sampaikan untuk dapat diterima oleh seluruh audiens yang hadir dengan 'tawaran pesan' yang saya harapkan dapat mudah dimengerti dan disetujui oleh audiens yang mendengar bahwa pilihlah pasangan yang akan membuat kehidupan kita lebih mudah, aman, nyaman, lebih cepat sampai tujuan.

Sekarang minggu kedua 360 community menggunakan teknik ini, saya ucapkan selamat mencoba, dan saya akhiri tulisan seri pertama tentang analogi ini dengan beberapa tips menggunakan analogi berikut ini:

1.    Kenali dulu profile audiens anda
2.    Tentukan di pesan yang mana anda akan gunakan analogi
3.    Pastikan analogi yang disampaikan relevan dengan audiens anda

4.    Tempatkan analogi untuk membantu pesan utama tidak sebaliknya

(Terlihat) Siap walau Tidak Siap

We've got to hold on ready or not.
You live for the fight when it's all that you've got. - Jon Bon Jovi

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya tentang kata-kata yang jangan digunakan walaupun kita memang tidak siap. Kalau tulisan sebelumnya saya ingin memberikan pemikiran yang baru terhadap anda, kali ini saya akan menulis bagaimana cara melakukannya.

Banyak orang berpikir bahwa bisa siap walaupun sebenarnya tidak siap adalah sebuah
kepalsuan yang diberikan saat kita berbicara, karena dianggap membohongi audiens. Saya dapat katakan dalan tulisan ini bahwa anggapan tersebut tidak benar, karena setiap orang memiki kemampuan yang berbeda dengan yang lain. Bisa saja secara materi ia sudah sangat siap, namun saat menyampaikannya tidak lebih baik dari seseorang yang sebenarnya belum siap.

Dalam sebuah seminar tentang CSR ada 2 narasumber yang memaparkan materinya masing-masing. Dalam sesi sebelum seminar, karena saya sebagai MC sempat berbincang dengan mereka secara terpisah. Pembicara yang satu terlihat sekali sudah menyiapkan materinya dengan slides presentasi dan handout yang ia siapkan. Sementara pembicara yang lain tidak memiliki slides apalagi handout karena dia ditunjuk beberapa jam sebelum acara menggantikan pimpinannya yang berhalangan hadir.

Apa yang terjadi?
Saat pembicara A memaparkan materinya ia sangat bergantung pada slides yang memang sudah ia persiapkan beserta handout yang ia bagikan kepada audiens  sehingga suasana menjadi membosankan karena yang disampaikan sama persis dengan yang ditampilkan dan dibagikan.

Saat pembicara B memaparkan materinya, ia hanya bergantung pada pikiran dan tulisannya yang ia buat di kertas kecil namun mampu mengemasnya menjadi satu pembahasan yang menarik untuk didengarkan walau yang ia sampaikan tidak sedetail pembicara A1. Perlu diingat bahwa ia tidak sempat membuat persiapan dan terpaksa untuk hadir sebagai pengganti pimpinannya.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa walaupun kita belum siap namun bukan berarti kita harus terlihat tidak siap, semua tergantung anda sebagai pembicara apakah mau terlihat tidak siap atau sebaliknya.Berikut ini adalah tips yang khusus untuk anda yang ingin terlihat selalu siap saat melakukan public speaking:

Tampilkan bahasa tubuh percaya diri
Kesiapan seseorang saat public speaking bukan hanya terlihat dari kemampuan menguasai materi, namun juga dari kemampuan menguasai diri. Tentu saja gabungan dari keduanya adalah yang terbaik bagi pembicara, namun dalam tulisan ini keadaannya adalah saat tidak mempersiapkan materi yang akan disampaikan, sehingga menunjukan bahwa anda menguasai diri dengan tampil percaya diri adalah hal yang mutlak harus anda tampilkan. Percaya diri saat tidak siap adalah ketika pandangan mata kita tertuju kepada seluruh audiens, wajah kita tersenyum, postur kita tegak, gestur kita dinamis, dengan suara yang terdengar jelas. Saat saya menulis ini,


saya masih berada di amsterdam menghadiri undangan dari asosiasi pesepakbola dunia. Di hari ke-3 kejutan terjadi karena hadir di hadapan saya Xavi Hernandes, Cesc
Fabregas, Gerard Pique dari Barcelona dan kami diminta untuk mengajukan pertanyaan kepada mereka.

Pertama yang ingin saya sampaikan bahwa saya pengagum berat Xavi Hernandez dan juga Barcelona (setelah Liverpool tentunya, haha) sehingga bisa anda bayangkan betapa gugupnya saya melihat mereka di depan saya. Kedua adalah saya harus bertanya kepada mereka karena pentingnya pertanyaan saya untuk didengar pesepakbola Indonesia, dan tentunya dengan bahasa Inggris. Saya praktekan tips ini, dimana saya tidak siap namun saya percaya diri untuk mengangkat tangan dan bertanya kepada mereka. Setelah acara selesai banyak pihak yang menyalami saya dan mengatakan pertanyaan yang sangat bagus dan berguna bukan hanya bagi pesepakbola Indonesia namun juga yang lainnya.

Bahas hanya hal yang anda kuasai
Saat kita tidak siap jangan lagi terbebani dengan materi yang harus anda bisa jelaskan secara lengkap dan detail sebagaimana ketika anda siap. Lupakan apa yang tidak anda ketahui dan mulai Lakukan apa yang anda kuasai. Banyak sekali pembicara yang sedang tidak siap tetap ingin menyampaikan semua materi yang sebenarnya ia tidak kuasai, sehingga pesan yang disampaikan tidak "mengena" ke audiens. Lebih baik untuk fokus kepada hal yang dikuasai atau ketahui untuk disampaikan dengan cara tepat daripada fokus kepada hal yang tidak dikuasai atau tidak diketahui.

Bawakan bahan dengan ringan namun menarik
Saat anda tidak siap dengan 2 tips tadi sekarang anda sudah percaya diri dan membahas hal yang anda kuasai. Percaya diri dan membahas hal yang anda kuasai ini

perlu ditambah lagi dengan membawakannya secara ringan dan menarik. Saat anda membawakan dengan lebih ringan maka diri anda sendiri tidak akan terlalu terbeban  dengan pesan yang akan anda sampaikan, dan selain itu audiens juga lebih mudah untuk mencerna apa yang hendak anda sampaikan. Menyampaikan dengan menarik membuat audiens anda akan memberi perhatian kepada anda walaupun mungkin pesan yang anda sampaikan tidak selengkap dan sedetail yang mereka harapkan. Ringan dan menarik ini mengaktifkan otak kanan audiens, sementara membawakan dengan detail dan lengkap adalah otak kiri. Ketika anda tidak mampu memberikan "makanan" kepada audiens otak kiri anda, mulailah membuat mereka rilex dengan mengkatifkan otak kanannya, sehingga ke krtitisan yang akan diberikan juga berkurang karena mereka pun terbawa dengan bahasan anda yang ringan dan menarik

Akan ada banyak situasi dimana kita tidak siap untuk menyampaikan sesuatu secara publik namun harus kita yang menyampaikan. Silahkan mencoba 3 tips di atas dalam situasi seperti tadi, sehingga jangan lagi anda mengelak dan jangan lagi membuat statement awal untuk dimaklumi, namun sebaliknya justru tampilkan bahwa anda selalu terlihat siap bicara dengan siapa, kapan saja dan dimana saja (walaupun padahal sebenarnya tidak:)). Dari schipol airport menunggu pesawat ke paris-madrid tulisan ini saya berikan khusus untuk 360 community:).

Jangan Lagi Katakan "Ini" Walau Anda Tidak Siap

Saat ini saya masih berada di Amsterdam, Belanda untuk memenuhi undangan yang diberikan Asosiasi Pesepakbola Dunia kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia, dimana saya menjadi salah satu staffnya. Undangan yang diberikan adalah untuk menghadiri Peresmian Kantor baru dimana diakhiri dengan menyaksikan pertandingan final europa league (kalau yang ini pasti banyak yang merasa iri :).

Sebagai informasi saja bahwa kami biasanya menghadiri undangan minimal 2x dalam 1 tahun yakni kongres asia dan dunia, dan untuk acara itu kami pasti memerlukan presentasi yang cukup baik untuk dapat dipresentasikan apalagi menggunakan bahasa inggris. Untuk undangan kali ini saya tidak menyiapkannya karena di awal bulan Juni nanti kami ada kongres asia sehingga kami pikir semua akan kami persiapkan disana. Namun apa yang terjadi? ternyata saat hari kedua saya berada disini kami dari divisi asia diminta untuk mengadakan meeting selama satu jam sebelum salah satu sesi dimulai.

Jadi tepatnya pada hari kedua di tengah cuaca Amsterdam yang sedang dingin jam 11 siang waktu disini kami dari divisi asia mulai berkumpul, kemudian meeting dibuka oleh ketua kami dan yang keluar dari mulutnya bukanlah tentang sharing atau ngobrol2 biasa namun meminta tiap negara untuk memberikan presentasi tentang keadaan negaranya masing-masing. Pernahkah anda dalam situasi seperti ini? karena keadaan maka anda tanpa persiapan harus tetap berbicara di depan publik? Saat itu juga antara Pikiran, Perasaan dan mulut beradu dan saling bertentangan menjadi satu mau memulai dari mana, bicara apa, bahasa yang benarnya seperti apa, namun tetap saja saya harus mengatakannya atau jika bahasa sehari-harinya ini derita gw :). Maka tibalah saatnya saya untuk bicara dan sebenarnya ingin sekali kata pertama saya adalah: Mohon maaf sebelumnya jika saya tidak menyiapkan bahan untuk bicara saat ini, karena saya pikir di acara ini tidak ada presentasi seperti saat ini. Thank God karena saya sering menegur peserta training yang melakukan hal seperti itu, maka saya pun tidak melakukannya sampai akhir presentasi saya. Kalau ditanya apakah presentasi saya memuaskan maka saya mengatakan saya tidak puas, tetapi paling tidak sebagai pembicara kita terlihat siap saat berbicara kapanpun, dengan siapapun dan dimanapun.

Saya beralih ke cerita yang berbeda saat saya hendak berangkat ke Amsterdam di hari minggu kemarin, jam 2 siang saya diundang untuk meeting dengan salah satu klien dari badan pemerintahan untuk menginformasikan penawaran menyelenggarakan acara training yang mereka minta kepada saya. Saya datang dengan pakaian tidak formal ke salah satu hotel di kawasan Karawaci, kemudian disambut oleh PIC dari klien saya, ke salah satu meeting room yang ada di hotel tersebut. Saya tersenyum dan sangat percaya diri untuk menyampaikan penawaran saya kepada pihak yang berwenang disana. Akhirnya saya bertemu dengan 3 orang pimpinan dalam meeting room yang kosong dan saya pikir untuk apa ya bertemu saya saja sampai ada ruangan sebesar ini? Selepas berkenalan PIC tersebut memanggil kurang lebih 20 orang lainya untuk masuk ruangan, dan salah satu pimpinan yang baru saja berkenalan dengan saya membuka acara tersebut dengan formal termasuk memperkenalkan saya dan agenda yang pertama dia mengatakan begini: saat ini telah hadir Valentino Simanjuntak sebagai penyelenggara acara, untuk lebih jelasnya mari kita dengarkan presentasi dari beliau tentang perusahaannya dan konsep acara yang ditawarkan. WOOOW seketika saya memandang PIC yang mengudang saya untuk memberikan kode dengan eye contact kira-kira jika di verbalkan seperti ini: “apa-apaan nih, kenapa gw jadi diminta presentasi, kan loe bilang cuma kasih penawaran doang? Pakaian informal sendirian dan tidak ada bahan presentasi” :), tetapi lagi-lagi seperti yang awal itulah derita saya dan tetap saya harus mulai berbicara. Di awal pembicaraan kembali sama dalam mulut saya sudah ingin melontarkan kata bahwa saya diundang sebenarnya bukan untuk presentasi jadi mohon maaf jika saat ini saya tidak maksimal dalam memberikan presentasi. Namun di saat itu juga pikiran saya mengatakan jika perkataan tadi jika diucapkan hanya akan membuat saya di mata klien tidak profesional dan tidak siap, sehingga saya memilih untuk tetap dengan percaya diri melakukan presentasi seakan-akan saya sudah mempersiapkan untuk presentasi saat itu. Setelah selesai PIC tersebut tersenyum  saja dan bilang sudah pas tadi presentasinya, dan saya juga hanya bisa membalas dengan senyuman.

Dari dua cerita di atas anda bisa saja bertanya apa yang salah jika kita berterus terang kepada audiens kalau kita tidak siap dan meminta maklum pada mereka? jawaban saya adalah berikut ini:

Pembeli yang perlu dimaklumi
Tujuan kita mengatakan excuse memang awalnya untuk dimaklumi, namun audiens datang dengan waktu, pikiran dan tenaga bukan untuk memaklumi kita namun pembicara yang memaklumi mereka. Ini kalau saya analogikan sama dengan pembeli dan penjual, dimana saat anda menjadi penjual maka yang harus dimaklumi adalah pembelinya bukan sebaliknya. Saat pembeli komplain dengan ketidaksiapan layanan penjual maka yang perlu memaklumi adalah penjual bukan justru pembeli yang harus memaklumi ada yang tidak beres. Pembicara seperti penjual, apa yang dijual? perkataannya. Jika di awal anda sudah menunjukan ketidaksiapan, bagaiamana audiens anda akan mendengarkan dan percaya dengan perkataan anda sampai akhir

Siap tidak siap pembicara harus siap
Saat kita ditunjuk atau apapun namanya secara dadakan, sebagai pembicara dan situasi tersebut harus kita lalui, maka siap tidak siap kita harus siap. Katakanlah apa yang memang anda bisa katakan saat itu, terlepas dari latar belakang anda siap atau tidak. Hal ini harus pembicara lakukan untuk menunjukan kredibilitas anda sebagai pembicara.

Kualitas
Saat anda tidak siap namun anda mampu mendapat atensi dan kepercayaan dari audiens tanpa perlu mereka ketahui ketidaksiapan anda disitulah kualitas anda terlihat sebagai pembicara,sehingga audiens yang pada akhirnya mengetahui ketidak siapan anda akan mengatakan jika tidak siap aja sudah sebaik tadi apalagi jika dengan persiapan

Jadi mulai sekarang, jangan pernah lagi untuk anda mengatakan kata-kata mohon maklum karena anda tidak siap, mohon maaf karena anda tidak siap, mohon diketahui bahwa seharusnya bukan saya berada disini, dsb yang intinya sama karena saat kita berbicaa itu derita kita bukan mereka. Kalau begitu bagaimana caranya supaya bisa terlihat siap saat kita tidak siap? tunggu tulisan saya edisi berikutnya.

Valentino Simanjuntak memberikan tulisan ini dari Amsterdam, Belanda :)

'TOUCH UP' NUMBERS

"Price ain't merely about numbers. It's a satisfying sacrifice.”
― Toba Beta, Master of Stupidity 

Data, Fakta, Statistik, Hasil penelitian menjadi bagian penting dari setiap topik pembicaraan yang disampaikan oleh anda sebagai pembicara. Angka tidak bisa dipisahkan kalau kita mau menggunakan data, fakta, statistik tersebut.

Angka Membosankan
Sebelum adanya era presentasi Steve Jobs, angka sering sekali dipergunakan oleh banyak pembicara dengan membosankan, angka terucap dengan sulit untuk dimengerti oleh audiens yang hadir, angka tidak membuat audiens menyadari bahwa
itu penting untuk diketahui audiens.

Ipod touch ini memiliki kapasitas 32 GB

Gaji Samuel Etoo dalam 1 tahun sebanyak 20 Juta dollar

Kasus korupsi tersebut dianggap merugikan negara sebesar 1 triliun rupiah

Follower twitter SBY saat ini sudah mencapai 1 juta dalam 1 minggu

So what? kira-kira itu bisa dikatakan bagi audiens yang tidak mengerti makna angka yang disampaikan di atas jika tidak sesuai dengan bidang mereka.

Audiens yang tidak mengerti apa itu Ipod, akan tidak mengerti makna 32 GB, audiens yang tidak mengetahui mahkluk apakah twitter itu tidak tersentak dengan 1 juta followers SBY, Gaji Etoo bisa dibuat lebih fantastis jika pembicara mengetahui cara menggunakannya. Begitu juga dengan kasus korupsi 1 triliun memang banyak, namun belum tergambarkan sebanyak apa di hadapan audiens.

Angka Menarik

Steve jobs dalam presentasi ipod membuat angka menjadi menarik dengan mengubah kata dari yang sebenarnya bisa cukup dengan :

"Ipod ini memiliki kapasitas 32 GB" menjadi:

"Ipod ini dapat memuat 10000 musik, 7500 foto, 5000 video, dan dapat anda nikmati hanya dengan benda sekecil ini yang bahkan bisa dimasukan ke dalam kantong"

Dalam hal ini tentu saja audiens yang tidak mengerti tentang 32 GB dapat lebih jelas mengerti, bahkan tertarik untuk membeli Ipod tadi dengan teknik penyampaian seperti tadi.

Bagaimana dengan gaji samuel etoo sebesar 20 Juta dollar tersebut? anda bisa melakukan dengan contoh berikut:

Gaji terbesar pesepakbola bukanlah Messi, Ronaldo atau Ibrahimovic melainkan Samuel Etoo. Etoo mendapat gaji sebanyak 20 juta dollar setahun atau setara dengan 194 Milliar setahun berarti 16.167.000.000 sebulan berarti 4.041.750.000 seminggu berarti 577.393.000 sehari berarti 24.500.000 sejam berarti 400.968 semenit berarti 6.700 per detik atau setiap hembusan nafas. Bekerja dimanakah kita yang bisa seperti etoo yang setiap nafasnya ada harganya jika klub ingin merekrut dia?

Dua teknik tadi bisa kita lakukan untuk angka apapun yang akan kita sampaikan yang disesuaikan dengan audiensnya. karena yang paling penting adalah pesan kita menarik dan dimengerti oleh audiens.

Kalau begitu bagaimana dua contoh kalimat lainnya yang saya sebutkan diatas? Nah kalau itu tugas teman-teman untuk mencoba dengan gayanya masing-masing untuk bermain dengan angka tersebut.

Bagaimana membuat angka jadi menarik?

Teman-teman dapat melakukan ini dengan beberapa tips:

  Membagi angka tersebut kepada pemahaman seluruh audiens 
  Mengilustrasikan angka tersebut kepada pemahaman seluruh audiens
  Menganalogikan angka tersebut dengan bahasa yang dipahami seluruh audiens


Selamat berlatih untuk membuat angka menjadi menarik dalam pesan pembicaraan anda sehingga audiens bukan saja tertarik namun juga mengerti.

Pembicara Terpercaya

To be trusted is a greater compliment than being loved.
-George Macdonald- 

Satu hal yang membuat PENDENGAR mau mendengar PEMBICARA  dan melakukan apa yang menjadi pesannya adalah adanya KEPERCAYAAN !!! Pendengar akan percaya dengan pesan yang disampaikan apabila pendengar tersebut terlebih dahulu percaya terhadap pembicaranya. Contoh menarik dapat dilihat pada acara yang sedang booming saat ini, yakni The Voice.

Dalam acara tersebut, pada saat terjadi perebutan yang melibatkan lebih dari 1 coach terhadap 1 orang peserta untuk bergabung ke dalam tim nya, maka Coaches akan menggunakan kemampuan berbicara untuk meyakinkan peserta tersebut bergabung ke dalam timnya, terlepas dari latar belakang ataupun seberapa terkenalnya coach tersebut.

Tulisan kali ini terinspirasi dari episode 1 'blind audition' The Voice season-4 versi Amerika Serikat. Dalam season 4 ini, terdapat 2 coach baru yaitu Shakira yang menggantikan Christina Aguilera dan Usher yang menggantikan CeeLo, sedangkan 2 coach yang masih bertahan yaitu Adam Lavine dan Blake Shelton.

Saat melihat acara tersebut, saya mendapatkan insight bahwa pesan seseorang akan dipercaya apabila si pembicara menggunakan 3 hal di bawah ini:


Be Genuine
Banyak diantara kita saat berbicara tidak menunjukan originalitas diri kita sendiri, entah karena memaksakan diri menjadi orang lain agar diterima oleh pendengar, atau sekedar ingin menjaga image di hadapan pendengar.
Apapun alasannya jangan lakukan itu lagi!!!

'Keaslian dari diri kita adalah keunikan yang hanya dimiliki oleh diri kita sendiri' (silahkan kalau mau di tweet, mention @radotvalent ya:) ). Originalitas diri kita saat berbicara akan dapat menunjukan kesungguhan dari kata yang terucap (kalo ini juga mau di tweet silahkan, hehehe). Originalitas inilah yang akan membuat pendengar dapat mempercayai pesan dari pembicara itu atau tidak.

Dari antara ke-4 Coaches tadi, hanya Blake Shelton yang tidak familiar bagi saya, namun dia sukses membawa Cassadee Pope di episode 3 menjadi juara. Peserta pertama (yang ditayangkan tv) adalah wanita kembar yang saat mereka bernyanyi membuat semua juri berputar balik dari kursinya. Sebagaimana kita tahu, ketika ke-4 coaches meginginkan peserta audisi, maka terjadi 'jual diri' yang seru diantara mereka, dimana untuk peserta ini akhirnya Blake yang terpilih. Alasan yang dikemukakan saat di belakang panggung mereka memilih Blake dibandingkan Adam, Shakira atau bahkan Usher adalah originalitas Blake saat ‘menjual’ dirinya yang menunjukan ketulusan ingin melatih mereka untuk menjadi penyanyi yang lebih baik.

Show Your Strength
Di dalam salah satu kesempatan saat coaches saling berbicara, mereka saling tertawa karena masing-masing mereka memilki jurus andalan untuk merayu peserta bergabung dengan timnya masing-masing. Adam Lavine di saat itu berkata, ”Inilah The Voice dimana masing-masing mengeluarkan jurus rayuan dengan kekuatan masing-masing di industri musik.'
Strength, kata yang memang jika dipikirkan akan menjadi sambungan dari Genuine. Maksud saya seperti ini, ketika kita berbicara sebagaimana adanya kita maka keunikan
dari diri kita akan muncul. Unik itu sendiri akan semakin terbentuk dan melekat dalam identitas seseorang ketika terus digali, dilatih dan dilakukan yang menjadi kekuatan (Strength).
Kekuatan saya sebagai pembicara adalah saya membawakan materi dengan konsep edutainment yakni memberikan pengetahuan bagi pendengar namun dengan cara yang menghibur. Saya adalah pembicara yang dapat sekilas terlihat formal dengan penampilan luarnya namun ternyata sangat informal ketika sudah memulai menyampaikan materinya, dan itulah keunikan yang akhirnya menjadi kekuatan saya.
Kekuatan usher ada pada menciptakan artis baru di AS salah satunya Justin Bieber, dan itu juga yang sering menjadi senjatanya untuk merayu, dan ketika ia beradu rayuan bersama Shakira untuk medapatkan salah satu kontestan, kekuatan Usher itu yang akhirnya dipercaya oleh kontestan untuk membuatnya masuk ke dalam tim.

Think before speak
Untuk dapat dipercaya, seorang pembicara harus dapat mengendalikan antara pesan yang ada di dalam pikiran dengan yang sudah ada di ujung mulut. Mengapa demikian? Karena saat kita sedang berbicara, khususnya saat perasaan lebih mendominasi daripada pikiran, maka sering terjadi perkataan-perkataan yang tidak seharusnya kita ucapkan justru terucap dan membuat pendengar tidak percaya kepada kita. Saya teringat dengan ucapan salah satu psikolog, bahwa ada pesan yang perlu tetap hanya berada di pikiran dan perasaan saja, ada pesan yang  boleh diucapkan, dan ada pesan yang memang perlu diucapkan.


Saat ada seorang kontestan yang membuat Usher terpincut dia berucap bahwa 'Nashvile adalah negara bagian' itu yang membuat Adam dan Blake tertawa karena Nashville adalah ibukota negara bagian Tennesee. Saat diwawancara Usher mengakui
itu terucap bukan karena dia tidak tahu, namun sebegitu besarnya dia mau mendapat impresi yang baik dan kepercayaan dari kontestan yang membuatnya melakukan kesalahan fatal tersebut. Dia sendiri menambahkan bahwa terkadang orang tidak berpikir dulu sebelum mengucap sesuatu ketika emosionalnya sedang tinggi.

Jika saya dan anda yang salah seperti tadi mungkin masih hal yang biasa, namun ketika seorang public figure seterkenal dan berpengaruh seperti Usher, tentu kesalahan seperti ini akan menjadi berita besar yang cukup memalukan bagi dirinya. 


Teman-teman, jika ingin menjadi pembicara yang dipercaya mulailah dari sekarang untuk tampil apa adanya diri anda untuk menjadi solusi bagi pendengar, tunjukan dimana letak kekuatan anda sebagai pembicara dan selalu ingat untuk menyampaikan pesan yang sudah ‘lolos sensor’ dalam pikiran anda, daripada hanya sekedar mengikuti emosi anda.

OTORITAS PEMBICARA

Saat seseorang berbicara di depan publik, maka akan banyak tipe publik yang akan kita hadapi, mulai dari tipe yang terlihat mendukung sampai mengintimidasi si pembicara. Jika saja semua audiens bersikap mendukung maka itu yang biasanya menambah kepercayaan diri si pembicara, namun kenyataannya justru seringkali audiens yang hadir adalah tipe yang mengintimidasi atau “paling tidak” menurut pemikiran pembicara begitu. Biasanya tipe audiens yang demikian atau “dianggap demikian” adalah Bos kita di kantor, Senior kita, orang yang lebih berpengalaman, yang memiliki gelar lebih banyak dari kita.

Saya sengaja memasukan kata “paling tidak” dan “dianggap demikian” dalam paragraf diatas karena sering terjadi justru sebenarnya yang mengintimidasi adalah pemikiran kita sendiri terhadap audiens tersebut. Kita sudah memiliki penilaian terlebih dahulu terhadap audiens, bahkan sebelum audiens tersebut menilai kita. Dalam banyak kasus seperti ini, sering juga terjadi pemikiran tersebut timbul saat kita berbicara sementara bahasa tubuh audiens kita ‘pikir’ tidak suka dengan materi kita sehingga akhirnya kita sendiri yang terintimidasi. Dalam tulisan ini saya hendak berbagi bahwa baik kepada audiens yang memang benar-benar mengintimidasi ataupun karena pemikiran negatif kita saja namun “the show must go on”, karenanya sebagai pembicara kita harus mengambil alih otoritas saat kita tampil.

Salah satu pengalaman saya yang tidak akan terlupakan adalah saat saya berbicara di hadapan seluruh Humas Polri di PTIK, mulai dari Kadiv Humas POLRI (kala itu Bpk. Edward Aritonang), seluruh Kabid  Humas Polda dan jajaran humas di bawahnya yang jumlah total audiensnya sekitar 150 peserta. Saya ketika itu juga baru sembuh dari penyakit Demam Berdarah sehingga di dalam badan saya mengalir keringat dingin gabungan antara keadaan tubuh yang baru sembuh dengan ketegangan berbicara di hadapan audiens tadi.
Perasaan terintimidasi mulai terasa ketika saya memulai acara dimana semua peserta tampak mengikuti respon dari pimpinan mereka yang duduk di bagian paling depan (seluruh kabid humas Polda), yang artinya jika pemimpin mereka diam maka yang lain pun diam, dan jika pemimpin mereka tersenyum maka mereka tersenyum. Saya semakin terintimidasi karena sebelum acara,  di briefing bahwa penampilan saya ini sebagai pilot project sekaligus ujung tombak perusahaan training tersebut apakah akan mendapat “program berkelanjutan” dari Kepolisian Republik Indonesia atau tidak.

Saya memulai penampilan dengan berusaha meraih perhatian mereka agar lebih rilex, namun karena keliatannya saya juga tegang (terlihat dari suara saya yang bergetar dan keringat yang terus mengucur) semua auidens tidak merespon sebagaimana yang saya inginkan. 15 Menit awal berlalu dan ketegangan semakin menjadi padahal acara akan berlangsung selama 6 jam, sampai akhirnya salah satu wakil Kabid Humas memberi saya sepucuk ‘surat cinta’ yang isinya :”tenangkan diri Valent, jangan tegang, kami mendukungmu’. Seketika saya tersenyum kepada bapak tersebut dan berusaha menyangkal dalam diri bahwa saya keringetan karena habis sakit, padahal sebenarnya ada dampak juga dari ketegangan dan rasa terintimidasi.
Setelah itu saya menyadari bahwa saya kehilangan otoritas saya karena merasa ada di bawah tekanan audiens di hadapan saya. Perasaan-perasaan yang justru melemahkan saya sebagai pembicara, yakni “siapa saya bisa berbicara untuk mereka?”, “polisi pasti males ikutan training”, “kalo saya jelek gimana ni sama perusahaan saya?” dll sampai akhirnya saya merespon keadaan tersebut untuk mengambil alih lagi otoritas yang saya miliki dengan kembali berbicara dengan menjadi diri saya sendiri yang nyaman untuk saya tampilkan. Hasilnya? Saya dianggap sukses, sampai hari ini dapat menjalin komunikasi dengan para Kabid Humas tersebut, dan perusahaan lembaga training yang mempekerjakan saya mendapatkan program berkelanjutan dimana salah satunya adalah melatih etika dan skill komunikasi untuk Polantas Polda Metro Jaya dimana saya mendapat 12 batch untuk saya training.

Dari pengalaman saya tadi jelas bahwa siapapun yang menjadi audiens kita saat jadi pembicara, otoritas haruslah ada pada pembicara karena di momen tersebut, semua yang hadir siapapun mereka, apapun jabatannya, berapapun usianya, mereka semua dalam posisi mendengarkan kita.
2 hal yang dapat saya bagikan untuk bisa mengatasi pikiran atau perasaan terintimidasi saat kita berbicara adalah:
1.      Naked Listeners
Memang benar bahwa audiens kita bisa saja orang-orang yang ada di ‘atas’ kita, namun saat kita berbicara mereka semua sedang mendengarkan kita. Karenanya, naked listeners berbicara tentang menganggap semua pendengar adalah sama derajatnya dari baris paling depan sampai belakang dan sederajat dengan kita sang pembicara. Dengan memandang seperti itu kita bisa tampil lebih lepas seperti biasanya kita
2.      Naked Speaker
Setelah memandang audiens sederajat, sekarang semua ada pada diri kita sendiri sebagai pembicara, apakah kita mau menjadi orang lain atau menjadi diri sendiri. Kalau saya memilih sebagai diri sendiri dengan ciri khas yang memang saya miliki sebagai pembicara. Ciri khas didapat dari kekuatan kita menampilkan diri sebagai pembicara, ada yang lucu, tegas, elegan, kreatif dsb.


Demikian tulisan saya kali ini, semoga membantu anda yang mengalami masalah seperti saya tadi dan mencegah anda dari pengalaman saya tadi bagi anda yang belum mengalaminya.